Cerpen

Aku, Abang & Tambora

Oleh: Anisa Rachma Agustina

16 Juni 2015 ini adalah kali pertama kami menginjakan kaki di Bima. Mimpi kami bersembilan untuk berbagi ilmu di pelosok negeri akhirnya bisa terwujud, sekarang tugas kami adalah mengabdikan seluruh jiwa raga kami kepada ibu pertiwi. Progam Indonesia mengajar yang membawa langkah kami hingga sini. Kami menuju kecamatan Tambora, Kabupaten Bima. Kami akan dibagi ke beberapa tempat yakni: desa kawinda Toi, Desa Kanagan, Dan Desa Oi Bura dll. Perjalanan kurang lebih 71 mil dari desa Piong Kecamatan Sanggar.

Di Kecamatan Tambora, Desa Kawinda Toi, adalah tempat dimana kami akan mengabdi selama setahun. perjalan menuju desa itu amat terjal kami jarang sekali menemukan jalan beraspal, kerikil tajam yang seolah menusuk roda kendaraan kami, debu yang terbawa angin dan sekeliling kami masih nampak asri karena belum berdirinya bangunan-bangunan. Sesekali kendaraan yang mengangkut kami melintasi jalan yang bisa dikatakan seperti sungai yang tak berair, beberapa kawan kami memuntahkan isi perut mereka karena kondisi jalan yang begitu menantang.

Kami ber 9 membawa puluhan box buku yang nantinya akan kami gunakan untuk belajar bersama anak-anak di Kabupaten Bima ini. Kami di tempatkan ditempat yang berbeda dan aku mendapat tugas mengajar di salah satu desa nan indah dengan penduduk yang sangat ramah. Saat kendaraan kami berhenti di halaman sekolahan berdinding papan kayu, beberapa kawanku menurunkuan dua box buku, alat peraga dan baju yang sudah aku kemas. Kepala sekolah SD Oi mara dan para guru lainya menyambut kedatangan kami dengan hangat.

Kepala sekolah mempersilahkan rombongan kami untuk beristirahat sejenak sebelum rombongan  yang lain mengantarkan delapan kawan kami ke Desa lain. Secangkir kopi khas Tambora melegakan dahaga kami, aroma yang khas membuat aku sudah merindukan kopi seduhan ibuku. Kami berbincang tentang pendidikan di SD Oi mara. Hingga seruputan terakhir dari kopi kami kami harus mengakhiri obrolan, kawan kami harus segera sampai ke tempat mereka mengabdi.

Saat mobil melaju saat itu aku hanya berdiri melambai bersama bu nadin salah satu guru di SD Oi Mara.  Rumah bu Nadin juga kelak aku akan menumpang selama setahun ini. Suami bu Nadin adalah kepala desa Kawinda Toi, jarak rumah bu Nadin hingga sekolah lumyan jauh. Sebulan lagi bu Nadin akan melahirkan sehingga beliau mengambil cuti, sehingga aku harus terbiasa menempuh perjalan sendiri hingga sekolahan.

Di kamar berukuran 3×2 m dengan dinding papan yang disusun begitu rapi aku membaringkan tubuhku mencoba memejamkan mata sejenak diatas dipan kayu yang hanya muat untukku. Aku tak sadar jika aku sudah terlelap terlalu lama hingga saat bu Nadin mengetuk pintu dan mengajak kami makan malam bersama. Kudapan yang begitu lezat, sepiring plecing kangkung, ayam taliwang dan nasi hangat. “silahkan dimakan mbak Jani, ini masakan khas Lombok, Ibu Asli Lombok jadi sering masak masakan Lombok di Bima” “iya bu” jawabku sambil mengambil sambel plecing yang sangat mengungah selera.

Pagi ini adalah kali pertama aku memulai pembelajaran bersama anak-anak di SD Oi Marai, saat upacara bendera kepala sekolah memperkenalkanku semua anak bersorak gembira atas kehadiranku di tenggah mereka, aku menemukan keluarga baru disini. Semangat anak-anak untuk belajar dengan media yang bisa dibilang sangat minim membuat aku semakin bersemangat untuk belajar bersama dan mengabdi untuk bumi pertiwi ini.

Mereka layak mendapat pendidikan yang sama seperti anak-anak di kota, mereka pantas mendapatkan ilmu yang sama dengan anak-anak yang setiap harinya bisa merasakan ice cream walls. Salah satu anak memanggilku aku mendekatinya dan menyapanya “hai siapa namamu?” tanyaku pada anak berseragam merah putih itu. “perkenalkan nama saya Rani bu Jani” dia menunjukan buku catatan yang berisikan beberapa soal penjumlahan. “ajari aku menghitung bu Jani, supaya aku bisa membantu bapak saat berjualan madu” pintanya dengan polos, aku mencoba mengajarinya penjumlahan, pengurangan dengan angka-angka yang mudah di ingat.

Saat kami sedang asik menghitung ada beberapa anak menghampiri kami, ternyata mereka juga ingin ikut belajar berhitung, ini yang membuatku selalu pulang sore, saat bell seklah berbunyi saat sebagian guru sudah kembali ke rumah mereka aku menyempatkan untuk belajar bersama anak-anak disini sekedar belajar mengeja huruf dan berhitung. Mereka sering membawakanku beberapa buah yang orang tua mereka petik dikebun, terkadang ada yang membawa madu. Dengan tulisa “madu untuk ibu Jani”.

Terkadang ada beberapa orang tua yang pulang dari kebun dan menyempatkan bertemu denganku, mengucapkan beberapa patah kata dan memelukku karena putranya sudah bisa membaca. Di Tambora aku menemukan keluarga baru, di Tambora aku menemukan jiwaku, dan Tambatan hatiku. Sepekan sekali aku akan ke Kota, bertemu dengan rekan seperjuangan di Indonesia mengajar dan menyempatkan untuk menelfon ibu dan ayahku di Jawa. Sedikit berbelanja makanan ringan untuk anak didikku dan membawakan pensil dengan karakter kartun yang akan ku bagikan dengan mereka.

Di sebelah rumah bu Nadin merupakan asrama TNI, setiap aku berangkat ke sekolah aku selalu melihat aktivitas para prajurit ini, dari lari-lari kecil hingga aktivitas yang berat, tak ajarang aku melihat mereka mengenakan pewarna di wajahnya sehingga menyerupai baju yang mereka kenakan. Sepulang mengajar aku duduk di teras rumah menikmati senja dengan secangkir kopi Tambora dan bingkau dolu ini adalah kue tradisional khas Bima yang terbuat dari tepung terigu, telur, santa, baking powder, gula pasir dan garam dengan sedikit daun pandan sebagai pewarna hijau. Rasanya begitu khas di padukan dengan kopi Tambora yang membuat semua ingin ke Bima.

“permisi pak Rohim ada mbak?” tanya seorang bertubuh tegap dengan potongan rambut bros dan celana doreng. “bapak ada, sebentar saya panggilkan” aku masuk dan membawa kudapanku ke meja makan mengakhiri imajinasiku tentang senja karena kedatangan lelaki itu. Bu Nadin menyuruhku menghantarkan minuman untuk tamu, aku membawakan dua cangkir kopi Tambora dan secangkir teh, dua cangkir kopi untuk tamu pak Rohim dan teh untuk bapak. “silahkan kopinya pak” aku menawarkan kopi itu pada du pemuda yang nampaknya belum pantas di panggil pak itu.

Dengan menunduk aku membawa nampan, aroma tubuh pemuda itu seperti masih menempel, aku  kemabali pada kopiku dimeja makan, aku harus fokus mengabdi disini bukan memikirkan masala percintaanku. Pagi harinya aku kembali beraktigitas seperti biasa membawa beberapa buku di ransel, memacu kendaraan bu Nadin dan melaju menuju Sekolah. Memulai pembelajaran dengan doa dan bergurau serta bercerita dengan teman belajarku disini.

Minggu ini aku akan ke kota, aku sudah mempersiapkan ransel dan juga beberapa lembar uang juga ponselku, aku sudah tidak sabar ingin bercerita dengan ibu, tentang bagaimana rasa madu khas Tambora, bagaimana aku anak didikku disini. Saat aku berniat mengeluarkan kendaraan bu Nadin, motor itu seketika macet, bannya kempes entah apa yang membuatnya meradang sehingga tidak mau mengantarku ke kota.

Aku  menunggu kendaraan umum di tepi jalan tepat bersebrangan dengan asrama para TNI yang bertugas di Tambora, seorang laki-laki menghampiriku, menyapaku dan memberikan tumpangan kebetulan dia juga ingin ke kota.

Diperjalanan kami tak banyak becakap, aku melihatnya sangat konsentrasi memacu kendaraannya. Sesampai di kota dia mengantarku berbelanja, menungguku menelfon ibu dan idia pun menelfon ibunya, dan mengajakku makan bakso. Rasanya rindu sekali aku dengan semangkuk bakso dan es dawet ayu yang sering aku santap saat di Jawa. Badanya tegap alis matanya begitu tebal pertanda dia mempunyai jiwa yang kuat. Itu hanya prediksiku.

Dia membuka pembicaraan “siapa namamu bu, masa kita belum kenalan” tanyanya. “nama saya Anjani pak” jawabku lirih “jangan panggil pak, panggil saja abang semua kawanku juga memanggilku abang” “iya bang,” jawabku aku menimpa dengan bertanya siapa namanya belum sempat aku bertanya dia sudah memperkenalkan diri “namaku “muhammad Ganendra, kamu bisa panggil aku rendra” setelah selesai kami menghabiskan semangkuk bakso dan es teh manis kami bergegas pulang.

Berbeda dengan perjalanan saat berangkat di perjalanan pulang bang rendra sangat hangat, dia menceritakan bagaimana dia bisa menjadi tentara yang awalnya dia ingin menjadi seorang musisi hingga mengorbankan cita-citanya. Bang Rendra juga banyak bercerita tentang keluarganya, baru sekali aku jalan dengannya namun rasanya aku sudah begitu tau perihal kepribadiannya.

Di desa tak ada signal, saat di kota bang Rendra meminta nomer ponselku padahal sama saja kita tidak akan bisa bertukar pesan, mungkin ketika kita mengirim pesan akan terkirim saat kita sama-sama ke kota. Setiap pagi aku selalu melihatnya latihan fisik, saat rekan-rekannya belum bangun bang Rendra sudah bangun pagi dan menyapu halaman asrama yang selalu penuh dengan daun kering yang jatuh. Saat itu pula aku sering membuatkan kopi khas Tambora kesukaannya dengan gula sedikit dan pekat, sebelum berangkat ke Sekolahan aku selalu menyempatkan untuk menemani bang Rendra menghabiskan secangkir kopinya, bercerita tentang kerinduan terhadap ibu dan daftar belanjaan saat aku hendak ke kota.

Setiap minggu kini aku punya kawan untuk menyusuri jalan hingga kota, aku punya kawan untuk menumpahkan keluh kesah, setiap minggu aku dan bang Rendra akan ke kota sekadar memberi kabar terhadap ibu kami atau sesekali menelfon teman kami di Jawa. Tapi berbeda minggu ini bang Rendra justru mengajku untuk berajalan-jalan katanya sayang kalo sudah sampai Tambora tapi belum tau keindahan Tambora. Bang Rendra mengajakku ke suatu Tempat yang sangat indah, nisa padu, desa Soro, Kecamatan Kempo perjalanan sangat jauh tapi terbayar dengan indahnya panorama disana. Aku dan bang Rendra duduk di atas padang Sabana yang membentang dan menyaksikan deburan ombak.

Aku terpikat dengan Tambora, kataku “Tambora Indah ya bang” “iya Tambora Indah Jani, namun lebih Indah saat Tambora kedatanganmu” sepatah kata dari bang Rendra yang membuat pipiku memerah. Kami banyak bercerita disana angin yang begitu semilir hingga banyak anak yang menghampiri kami dan mengajak kami main tebak-tebakan, ketika aku tanya cita-cita mereka dengan semangat mereka menjawab ingin menjadi tentara supaya bisa menjaga Tambora. Aku berlinang air amata mendegar cita-cita mereka, aku berharap Tuhan mengabulkannya.

Bang Rendra mengajakku untuk menuruni bukit, dan merasakan deburan ombak dari dekat, kami membuat istana pasir, mencari beberapa kerang yang telah ditinggal pemiliknya, dan menyempatkan untuk berfoto bersama. Di pantai bang Rendra menuliskan namaku dengan sebatang kayu, aku hanya tertawa kecil saat bang Rendra mulai menggodaku. Saat itu aku merasa aku tidak ingin meniggalkan Tambora kecuali kembali bersama bang Rendra.

Saat perjalanan pulang bang Rendra mengajakku makan makanan khas Bima, yakni Uta Londe Puru yakni bandeng bakar yang berukuran besar, saat makanan ini datang aku tetawa kecil aku kira bang Rendra mengajakku makan apa namanya aneh sekali ternyata ini adalah sebutan untuk ikan bandeng. Kami menghabiskan kudapan kami dan bergegas pulang. Di perjalanan bang Rendra sempat bertanya perihal hal pribadiku, aku hanya menjawab seperlunya saja.

Saat liburan sekolah aku banyak menghabiskan waktu di rumah, terkadang anak-anak menghampiriku untuk belajar bersama, dari situ aku dan bang Rendra punya banyak kesempatan untuk menjelajah Tambora bersama, diselasela pekerjaannya menjaga Tambora sesekali bang Rendra mengajakku menyusuri Tambora setelah pekan lalu kami ke nisa padu, kali ini perjalann kami akan berlanjut ke Pantai Lakey, dan Bukit Matompo disana kami disuguhi keindahan Tambora yang membuat kami enggan untuk beranjak, bang Rendra membawakan aku sebatang coklat yang entah dari mana ia dapat, aku potong dan aku bagi sebagian lainnya padanya, kami sempat menuliskan harapan kami pada kertas dan kami bertukar kertas itu, dan berjanji untuk membukannya saat kami telah pulang ke Jawa.

Sejak hari itu aku mulai merasa bahwa aku menemukan sosok yang aku cari di Bang Rendra, setelah beberapa kali aku di hianati oleh laki-laki bang Rendra hadir dengan berbagai pesonanya, memberikan pubdak saat aku butuh, memberikan tumpangan dan mengantarku ke kota ssetiap minggu, sesekali aku mengobrol dengan ibunya, begitu juga sebaliknya. Aku rasa aku mulai jatuh cinta dengan abdi negara ini, bukan karena seragam yang ia kenakan, bukan karena alis matanya yang tebal, tapi entahlah karena apa.

Disetiap kesempatan, di setiap minggu aku dan bang Rendra menghaabiskan akhir pekan bersama, hingga pada suatu minggu bang Rendra sakit sehingga dia tidak bisa ke kota bersamaku, pagi tadi aku sudah membawakan semangkuk sup dan tempe goreng untuknya, aku juga berpamitan untuk pergi ke kota nanti siang. Sesampai di kota aku membuka ponselku, banyak notifikasi di instagramku, ada wanita yang merorku, memakiku dan berkata kasar, dia mengirimkan fotoku dan bang Rendra di menduhku telah merebut bang Rebdra, padahal aku tidak ada hubungan apa-apa dengan bang Rendra, aku hanya mengaguminya dan begitu juga sebaliknya, kami hanya kawan dan kami sama-sama mengabdi di Tambora.

Sejak saat itu aku tidak pernah mau bertemu bang Rendra, aku sudah tidak mau mengenalnya lagi, aku tidak igin dikatain perusak hubungan orang. Aku juga tidak pernah ke kota bersamanya lagi, aku kira bang Rendra berbeda dengan laki-laki yang aku temui ternyata sama saja, menjadikan aku pelampiasan dan akan meninggalkanku begitu saja. Kontrakku mengajar tinggal beberapa hari itu artinya aku akan segera meninggalkan Tambora.

Aku bersyukur bisa pulang karena dengan jalan itu aku tidak akan melihat bang Rendra lagi. Sebelum kepulangan kami kami mengadakan pagelaran anak-anak di SD Oi Mara dengan antusis menampilkan berbagai kesenian, sebagai ucapan selamat tinggal karena bu Jani panggilan mereka kepadaku akan segera kembali ke Jawa. Mereka memelukku dengan erat dan memberiku berbagai macam pernak-pernik khas Tambora, ada yang memberiku kopi, madu dan akupun membagikan beberapa kenang-kenangan untuk kawan belajarku disini, di Tambora aku menemukan keluarga keduaku.

Saat kami di jemput mobil berplat merah karena tugas kami sudah selesai, aku mencium tangan bapak dan ibu Rohim, dan menitipkan amplop untuk bang Rendra, karena aku tidak sempat berpamitan. Aku juga mengucapkan banyak terimakasih karena bapak dan ibu telah menampungku dan menganggapku seperti anak mereka. saat mobil melaju pandanganku terus menatap pada halaman asrama TNI, aku hanya merindukan bang Rendra.

Team kami bertemu dan kami siap untuk kembali ke kota kami masing-masing. Setahun di Tambora banyak mengajarkanku tentang kemanusiaan, dan tentang cinta yang bekum sempat aku sampaikan, tentang bagaimana meracik kopi Tambora sehingga bisa menyebabkan candu bag penikmatnya, aku akan rindu Tambora dan aku juga akan rindu bang Rendra.

Beberapa bulan setelah aku pulang dari Tambora. Aku bekerja di sebuah sekolah dasar yang tidak terlalu jauh dari rumahku, keadaanya jauh berbeda saat aku mengajar di Tambora. Dan bedanya lagi di dekat rumhaku tidak ada asrama Tentara, dan tentara dengan alis tebal yang setiap hari menyapu halaman. Sial aku masih saja mengingat bang Rendra sejak pertemuan terakhir kami, saat aku mengantarkan Sup dan tempe goreng, sebelum aku dilabrak oleh wanita yag entah siapa itu.

Saat aku menyiram bunga di halaman belakang bapak memanggilku, bapak bilang ada kawan yang ingin bertemu denganku, aku mengira bahwa itu teman kuliahku atau teman SMA ku, ternyata aku salah, aku mematung di depan pintu tenggah menju ruang tamu, ada bang Rendra tenggah duduk dengan baju lorengnya. Aku hanya bisa mematung seoalh aku tidak percaya bagaimana bisa bang Rendra tau rumahku.

Saati itu aku hendak berganti pakaian, tapi bang Rendra sudah keburu melihatku dan memanggil namaku “anjani apa kabar?” sepatah kata dari bang Rendra yang mengoyahkan keteguhanku, megertarkan hatiku setelah beberapa bulan aku tak mendengar suara, dan mencium aroma tubuhnya. Aku menemuinya duduk berhadapan dengannya dan aku menunduk. Mengisyaratkan bahwa aku malu, rindu, marah sekaligus kembali jatu cinta untuk yang kesekian kalinya.

Ibu membawakan secangkir kopi dan pisang goreng untuk bang rendra, aku masih menjadi aAnjani yang asing dengannya, aku masih dingin dengannya, bang Rendra menjelaskan kesalah pahaman, dia menjelaskan bahwa wanita yang menghubungiku adalah mantanya, yang masih sangat terobsesi dengan bang Rendra. Dsri sana aku kembali luluh, aku kembali menatap bola mata dan menghitung ada berapa helai alis di pelipis matanya.

Saat itu bang Rendra menyuruhku mengambil kertas yang pernah kita tulis saat di Tambora, karena saat itu kita berjanji untuk membukanya saat kita sudah sampai Jawa. Aku sengaja tiidak membuka kertas tulisan bang Rendra karena sudah enggan dengannya, aku mengambil kertas itu dan membukanya bersama bang Rendra aku menemukan tulisan “Lasni Anjani Saraswati, maukah kau menikah denganku? Menungguku di pulang menjaga ibu pertiwi, menemani dan maukah kau menjadi tempat keluh kesahku? Menjadi persit dan ikut mengabdi menjaga NKRI?”

Tak terasa ku menumpahkan beberapa bulir air mata, aku menyekanya, dan menatap tajam bola mata bang Rendra “abang serius melamarku?” “iya Jani aku mencintaimu sejak kedatanganmu di Tambora, aku sering memerhatikanmu saat kau mengajar, mencabuti rumput di halaman belakan pak Rahmat, dan sesekal aku sering mencoba masakanmu saat bu Nadin memberikannya untuku”.

Bapak dan ibu datang memberi ucapan selamat untuk kami padahal aku belum sempat menjawab iya untuk lamaran pria ini, namun tampaknya mereka seisi ruangan tau bahwa aku akan menerima bang Rendra sebagai suamiku kelak. Saat kami bersenda gurau bang Rendra membacakan impianku yang aku tulis di kertas saat di Tambora, isinya singkat, padat, dan jelas dengan lantang bang Rendra membacakannya “aku ingin jadi ibu persit” dan kami semua tertawa karena impianku adalah menjadi ibu persit dan mendampinggi bang Rendra.

Anisa Rachma Agustina

Tinggalkan Balasan