Daerah

Dosen INISNU Jadi Narasumber FGD Pengembangan Game Gemar Sindosu

Dosen INISNU Jadi Narasumber FGD Pengembangan Game Gemar Sindosu

Temanggung, Distingsi.com — Wakil Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung (INISNU) menjadi narasumber utama dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Analisis Kebutuhan Pengembangan Game Edukasi Gemar Sindosu (Game Edukasi Multimodal Anak Nusantara Sindoro Sumbing) yang dilaksanakan pada Rabu, 23 April 2026 di Aula Ndalem Kemantenan Homestay, Kranggan, Temanggung. Kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan inovasi pendidikan berbasis budaya lokal dan teknologi digital yang didukung oleh LPDP dan Dana Indonesiana. Hadir puluhan guru MI/SD, perwakilan kepala MI/SD, dan akademisi.

FGD ini menghadirkan Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Keaswajaan INISNU Temanggung Andrian Gandi Wijanarko, M.Pd., dan Wakil Rektor II – Bidang SDM dan Kemahasiswaan INISNU Temanggung Dr. Joni, M.Pd. B.I.

Kegiatan FGD diawali dengan registrasi peserta pada pukul 12.30 WIB, dilanjutkan pembukaan oleh pembawa acara, sambutan Ketua Tim Peneliti Ersila Devy Rinjani, M.Pd., serta sambutan Rektor INISNU yang sekaligus membuka kegiatan secara resmi. Sesi inti FGD kemudian dipandu moderator dengan agenda utama analisis kebutuhan pengembangan game, pemaparan materi kebudayaan, serta kajian pendidikan dasar sebagai landasan penyusunan storyboard game.

Selain Wakil Rektor INISNU, kegiatan ini juga menghadirkan peneliti budaya, Dr. Joni, M.Pd.B.I., yang memaparkan pentingnya integrasi unsur budaya lokal dalam desain konten game. Pihaknya menyampaikan, bahwa data yang didapatkan adalah berasal dari observasi dan wawancara kepada beberapa tokoh di lereng Sindoro dan Sumbing, termasuk Pak Topo. Ia menekankan bahwa wilayah lereng Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing memiliki kekayaan tradisi, cerita rakyat, serta simbol budaya yang sangat potensial diangkat sebagai konten edukatif bagi anak-anak.

Sementara itu, akademisi pendidikan dasar, Andrian Gwijanarko, M.Pd., menyampaikan materi terkait karakteristik anak usia sekolah dasar dan strategi pembelajaran berbasis game. Ia menjelaskan bahwa anak-anak di era digital memiliki kecenderungan belajar melalui media visual dan interaktif, sehingga pengembangan game edukasi menjadi solusi efektif untuk meningkatkan motivasi belajar sekaligus memperkuat pemahaman konsep.

Dalam paparannya, Andrian Gandi menegaskan bahwa pengembangan game edukasi berbasis budaya lokal merupakan langkah strategis untuk menjawab tantangan pendidikan di era digital, khususnya bagi anak-anak usia sekolah dasar.

Menurutnya, kehadiran game edukasi Gemar Sindosu tidak hanya bertujuan sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran yang menanamkan nilai-nilai budaya, literasi digital, serta kecakapan berpikir kritis. “Game edukasi yang dirancang dengan pendekatan etnopedagogi akan mampu menjadi jembatan antara teknologi modern dan kearifan lokal. Anak-anak tidak hanya belajar teknologi, tetapi juga mengenal budaya daerahnya sendiri,” ungkapnya dalam sesi materi.|

Dalam sesi diskusi, peserta FGD yang terdiri dari akademisi, praktisi pendidikan, serta tim pengembang memberikan berbagai masukan terhadap rancangan storyboard game Gemar Sindosu. Diskusi tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi penting, antara lain perlunya integrasi nilai budaya lokal Kedu, penguatan unsur literasi digital, serta pengembangan fitur kolaboratif yang memungkinkan siswa belajar secara interaktif dan kontekstual.

FGD ini juga menekankan bahwa pengembangan game Gemar Sindosu mengusung tiga prinsip utama, yaitu edukatif, interaktif, dan kolaboratif. Ketiga prinsip tersebut diharapkan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna bagi anak-anak di wilayah Kawasan Sindoro–Sumbing dan sekitarnya.

Sebagai narasumber utama, Rektor INISNU menegaskan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam pengembangan inovasi pendidikan. Ia menyatakan bahwa sinergi antara akademisi, budayawan, dan praktisi teknologi akan menghasilkan produk pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan generasi masa kini.

“Pengembangan game edukasi seperti Gemar Sindosu bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi juga investasi budaya. Dengan pendekatan yang tepat, game ini dapat menjadi media strategis dalam melestarikan budaya lokal sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak di Indonesia,” tegasnya.

Kegiatan FGD ditutup dengan penyampaian simpulan hasil diskusi dan rekomendasi pengembangan storyboard sebagai dasar produksi tahap selanjutnya. Dengan terlaksananya FGD ini, diharapkan pengembangan game Gemar Sindosu dapat berjalan lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan pengguna, khususnya siswa sekolah dasar di wilayah Temanggung dan sekitarnya.

Melalui kegiatan ini, Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung inovasi pendidikan berbasis budaya lokal dan teknologi digital. Program ini diharapkan menjadi model pengembangan media pembelajaran kreatif yang mampu menjawab tantangan pendidikan di era digital sekaligus memperkuat identitas budaya Nusantara. (*)

admin
the authoradmin

Tinggalkan Balasan