Artikel

Hari Kartini 2026, SDN Patemon 02 Hadirkan Komunitas Gunungpati Peduli

Hari Kartini 2026, SDN Patemon 02 Hadirkan Komunitas Gunungpati Peduli

Semarang, Distingsi.com – Sekolah Dasar Negeri (SDN) Patemon 02 Gunungpati, Kota Semarang, bekerja sama dengan komunitas relawan Gunungpati Peduli menggelar kegiatan edukasi mitigasi bencana bertajuk Budaya Sadar Bencana (Budarna) pada Senin (20/4/2026). Kegiatan ini juga digelar dalam rangka meramaikan peringatan Hari Kartini 2026.

Ketua Relawan Gunungpati Peduli, Sulistyawan atau biasa dipanggil Mas Lis menyampaikan Budarna adalah pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang risiko bencana dan cara menghadapinya. Ini mencakup pemahaman tentang potensi ancaman bencana, serta kesiapan dan langkah-langkah yang diambil untuk mengurangi dampak bencana jika terjadi.

“Tujuan Budarna untuk mengurangi risiko dan dampak bencana dengan menciptakan masyarakat yang lebih waspada, terlatih, dan siap menghadapi situasi darurat. Hal ini penting karena bencana alam dan bencana buatan manusia dapat memiliki dampak yang signifikan pada kehidupan manusia dan lingkungan,” katanya.

Anak-anak merupakan salah satu kelompok paling berisiko terkena dampak bencana. Hampir 60% kehidupan anak-anak di dalam sekolahan. Kerentanan pada anak-anak terhadap bencana terjadi dikarenakan kurangnya faktor atau keterbatasan pemahaman mereka tentang risiko-risiko di sekeliling mereka yang berakibat tidak adanya kesiapsiagaan mereka dalam menghadapi suatu bencana. Hal ini menunjukkan perlu adanya pengetahuan tentang bencana dan pengurangan risiko bencana sejak dini pada anak untuk dapat memberikan pemahaman dan pengarahan langkah-langkah yang harus dilakukan saat adanya potensi suatu ancaman bencana di sekitar mereka.

Sementara itu, Kepala SDN Patemon 02 Gunungpati Kota Semarang, Dr. Dian Marta Wijayanti, M.Pd., mengatakan bahwa kegiatan ini dilaksanakan sebagai langkah antisipatif mengingat letak geografis Kelurahan Patemon, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, yang berada di jalur rawan secara geologis. Fokus utama dari program ini adalah memberikan pemahaman sejak dini agar siswa memiliki kesiapan mental dan fisik dalam menghadapi potensi ancaman gempa bumi di masa depan.

Dalam sesi edukasi tersebut, para relawan Gunungpati Peduli menggunakan media visual berupa peta geologi wilayah Semarang untuk mempermudah penjelasan kepada siswa. Melalui peta tersebut, ditunjukkan secara detail bahwa wilayah Kelurahan Patemon dilewati oleh jalur patahan dan sesar aktif yang memiliki potensi memicu guncangan gempa. Pendekatan ini bertujuan agar siswa tidak hanya sekadar mendengar instruksi, tetapi benar-benar memahami karakteristik lingkungan tempat mereka tinggal dan bersekolah.

Penyampaian materi dilakukan dengan bahasa yang ramah anak agar informasi mengenai patahan aktif tersebut tidak menimbulkan kecemasan yang berlebihan. Relawan menekankan bahwa gempa bumi adalah fenomena alam yang tidak bisa dihindari, namun dampaknya bisa diminimalisir dengan pengetahuan yang tepat. Siswa diajarkan untuk tetap tenang dan tidak panik, karena ketenangan adalah kunci utama dalam mengambil keputusan penyelamatan diri yang efektif saat situasi darurat terjadi.

Anak-anak diajarkan langkah-langkah konkret sebagai respons pertama saat guncangan mulai terasa. Mereka dilatih untuk segera merunduk, mencari perlindungan di bawah meja yang kuat untuk menghindari runtuhan plafon atau benda keras lainnya, serta tetap bertahan hingga guncangan benar-benar berhenti. Relawan juga mengajarkan sebuah lagu kepada anak-anak. “Kalau ada gempa lindungi kepala. Kalau ada gempa masuk kolong meja. Kalau ada gempa jauhi dinding kaca. Kalau ada gempa lari ke tempat terbuka,” katanya.

Selain berlindung di bawah meja, Tim Gunungpati Peduli juga memberikan panduan mengenai area aman di lingkungan SDN Patemon 02. Siswa diajarkan untuk menjauhi jendela kaca, lemari besar, dan papan tulis yang berisiko roboh. Guru dan siswa secara bersama-sama mengidentifikasi titik-titik di dalam kelas yang dianggap paling aman sebagai zona perlindungan sementara sebelum proses evakuasi keluar gedung dilakukan. Oleh karena itu, setiap sekolah perlu dilengkapi dengan rambu-rambu titik kumpul dan jalur evakuasi.

Edukasi ini juga mencakup simulasi jalur evakuasi menuju titik kumpul di lapangan terbuka sekolah. Anak-anak diajarkan cara keluar ruangan dengan tertib, yaitu dengan melindungi kepala menggunakan tas atau tangan dan tidak saling mendorong. Relawan menjelaskan bahwa saat gempa terjadi di jam pelajaran, lapangan sekolah merupakan tempat paling aman karena jauh dari struktur bangunan yang berpotensi runtuh atau jaringan kabel listrik.

Menariknya, edukasi ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyentuh aspek psikologis. Para siswa diberi pemahaman bahwa menjadi pribadi yang tangguh berarti berani menghadapi situasi sulit dengan pengetahuan. Dengan mengetahui bahwa daerah mereka berada di jalur sesar, siswa justru diharapkan menjadi lebih peduli terhadap lingkungan dan mampu mengingatkan teman serta keluarga di rumah untuk ikut serta melakukan langkah-langkah mitigasi mandiri.

Pihak sekolah mengapresiasi penuh inisiatif dari komunitas Gunungpati Peduli yang telah terjun langsung memberikan pembekalan ini. Sinergi antara sekolah dan relawan lokal dianggap sebagai model kolaborasi yang efektif dalam membangun resiliensi masyarakat di tingkat akar rumput. Pengetahuan mengenai kebencanaan kini tidak lagi dianggap sebagai materi tambahan, melainkan bagian penting dari kecakapan hidup yang harus dimiliki oleh setiap anak di wilayah rawan sesar aktif.

Melalui kegiatan ini, SDN Patemon 02 berharap dapat memutus rantai ketidaktahuan yang sering kali menjadi penyebab utama banyaknya korban saat bencana terjadi. Dengan edukasi berbasis peta dan data geologis yang akurat, siswa tidak lagi hanya menebak-nebak bahaya yang mengintai, tetapi sudah siap dengan strategi penyelamatan diri yang terencana. Hal ini sejalan dengan visi mewujudkan sekolah ramah anak yang juga tangguh dalam menghadapi tantangan alam.

Sebagai penutup kegiatan, seluruh peserta didik berkomitmen untuk terus melatih kesiapsiagaan mereka melalui simulasi rutin. Edukasi dari Gunungpati Peduli ini diharapkan menjadi pemantik bagi sekolah-sekolah lain di wilayah Gunungpati untuk melakukan hal serupa. Dengan literasi bencana yang kuat, warga sekolah SDN Patemon 02 kini lebih siap dan sigap, membuktikan bahwa pemahaman terhadap alam adalah langkah awal menuju keselamatan bersama. (*)

Tinggalkan Balasan

Exit mobile version